Penyakit Neurologis yang Memengaruhi Kehidupan Harian
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) adalah kondisi medis yang memengaruhi sistem saraf motorik. Penyakit ini menyebabkan kelemahan otot yang semakin parah seiring waktu, sehingga pengidapnya kesulitan melakukan aktivitas dasar seperti berjalan, berbicara, dan menelan. ALS sering disebut sebagai penyakit Lou Gehrig, merujuk pada nama pemain bisbol legendaris Amerika Serikat yang mengidap kondisi ini.
Penyebab dan Faktor Risiko ALS
Meskipun penyebab pasti ALS belum sepenuhnya diketahui, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 5 hingga 10 persen kasus ALS bersifat turunan. Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan radikal bebas dan ketidakseimbangan kadar glutamat juga bisa menjadi pemicu. Ada juga dugaan bahwa peradangan dalam sistem saraf serta kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terkena ALS.
Faktor risiko lain termasuk jenis kelamin, di mana pria lebih rentan terkena ALS sebelum usia 65 tahun. Namun, setelah usia 70 tahun, perbedaan ini menghilang. Usia juga menjadi faktor penting, karena gejala biasanya muncul pada usia akhir 50-an atau awal 60-an.
Gejala Umum yang Perlu Diwaspadai
Gejala ALS tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Pada tahap awal, gejala mungkin tidak terlihat jelas. Namun, seiring berkembangnya penyakit, pengidap mulai mengalami kelemahan otot progresif. Beberapa gejala umum meliputi:
- Kesulitan berjalan
- Kecanggungan atau kelelahan ekstrem
- Kram dan kedutan di lengan, bahu, atau lidah
- Kesulitan mempertahankan postur tubuh
- Perubahan emosi yang tiba-tiba
- Gangguan bicara dan suara
- Nyeri pada area tubuh tertentu
- Kelelahan yang tidak wajar
Pada tahap lanjut, pengidap ALS akan mengalami kesulitan bernapas dan menelan. Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia dan malnutrisi.
Proses Diagnosis ALS
Diagnosis ALS dilakukan melalui beberapa pemeriksaan medis. Dokter akan memperhatikan gejala seperti kelemahan otot, atrofi, dan kedutan. Tes tambahan seperti elektromiogram (EMG), studi konduksi saraf, MRI, tes darah dan urin, pungsi lumbal, biopsi otot, serta tes genetik juga digunakan untuk memastikan diagnosis.
Tes EMG membantu mengevaluasi aktivitas listrik otot, sementara MRI dapat mengungkapkan kondisi lain yang mungkin menyebabkan gejala. Tes darah dan urin digunakan untuk menyingkirkan penyebab lain dari gejala yang muncul. Biopsi otot dan tes genetik juga bisa dilakukan jika diperlukan.
Pengobatan dan Terapi untuk Mengelola ALS
Hingga saat ini, ALS belum memiliki obat penyembuhan. Namun, ada beberapa pengobatan dan terapi yang dapat membantu mengurangi gejala dan memperlambat perkembangan penyakit. Obat seperti riluzole dan edaravone digunakan untuk mengurangi kerusakan saraf dan memperpanjang harapan hidup. Selain itu, dokter juga meresepkan obat untuk mengatasi kram otot, nyeri, dan labilitas emosional.
Selain pengobatan medis, terapi fisik, terapi bicara, dan terapi pernapasan juga dianjurkan. Terapi fisik membantu menjaga kebugaran dan kekuatan otot, sedangkan terapi bicara membantu pengidap berkomunikasi dengan lebih baik. Terapi pernapasan bermanfaat bagi mereka yang mengalami kesulitan bernapas.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
ALS dapat menyebabkan berbagai komplikasi, terutama jika tidak segera ditangani. Sistem pernapasan bisa melemah, meningkatkan risiko pneumonia. Pengidap juga akan mengalami kesulitan berbicara dan makan, yang bisa menyebabkan tersedak. Selain itu, penurunan kemampuan bergerak dan demensia frontotemporal juga bisa terjadi.
Kemampuan untuk mengontrol otot menurun, sehingga fungsi tubuh lainnya juga terganggu. Malnutrisi dan penurunan berat badan juga menjadi risiko utama bagi pengidap ALS.
Pencegahan dan Deteksi Dini
Saat ini, belum ada metode pasti untuk mencegah ALS. Namun, deteksi dini sangat penting untuk mengelola penyakit ini. Jika ada riwayat keluarga dengan ALS atau gejala seperti kelemahan otot, segera konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan rutin bisa membantu mendeteksi penyakit lebih awal.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda mengalami gejala seperti kelemahan otot, kesulitan berbicara, atau kesulitan menelan, segera cari pertolongan medis. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
FAQ Tentang ALS
-
ALS singkatan dari apa?
ALS adalah singkatan dari Amyotrophic Lateral Sclerosis. Penyakit ini juga dikenal sebagai Penyakit Lou Gehrig, diambil dari nama seorang pemain baseball terkenal yang mengidap penyakit ini. -
Apakah ALS bisa sembuh?
Saat ini, ALS belum bisa disembuhkan. Namun, ada beberapa pengobatan dan terapi yang dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit, mengurangi gejala, dan meningkatkan kualitas hidup penderitanya. -
Berapa lama pengidap ALS bisa bertahan hidup?
Umumnya, pengidap ALS memiliki harapan hidup sekitar 2–5 tahun setelah gejala pertama muncul. Namun, sebagian kecil penderita bisa hidup lebih lama, bahkan lebih dari 10 tahun, terutama jika gejalanya berkembang secara perlahan atau mendapat penanganan medis yang baik. -
Apa penyebab ALS?
Penyebab pasti ALS belum sepenuhnya diketahui. Namun, beberapa faktor yang mungkin berperan meliputi genetik, faktor lingkungan, dan gangguan pada sistem saraf. ALS bukan penyakit menular dan bisa menyerang siapa saja, meskipun lebih sering terjadi pada orang usia 40–70 tahun.












